Surat Untuk Tulang Rusukku

  • 0
Oleh: Muhamad Salman Nasir - Sekolahpernikahan.ning.com (sumber)
**
untuk tulang rusukku yang kelak menjadi ratu bidadariku

Apa kabarmu, tulang rusukku?
Aku harap kamu masih sabar untuk menunggu kedatanganku untuk menemui ayahmu

Bukan.. Bukan karena aku tak  punya nyali tuk datangi ayahmu saat ini
Aku sedang mempersiapkan bekal terbaik untuk mengarungi lautan kehidupan dengan biduk rumah tangga yang akan kita tempati bersama

Namun sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu
Maaf karena saat ini aku tak sanggup dan tak bisa menyebutmu dengan kata “sayangku” atau “cintaku”

Bukan karena tak sayang dan cinta padamu
Bukan pula karena aku tak ingin menjadi lelaki romantis bagimu

Tapi, biarlah kata-kata itu kuucapkan setelah aku bersalaman dengan ayahmu di depan penghulu
Biarlah romantisme itu kuberikan setelah kau halal bagiku
Namun saat ini, bolehkah aku menyebutmu dengan panggilan adinda

Adindaku,
Kau berharap aku adalah seorang lelaki shalih yang akan menjadi imam dalam shalatmu dan hidupmu
Namun adindaku, aku masih belumlah menjadi lelaki shalih yang kau dambakan itu
Aku masih belajar untuk menjadi lelaki shalih itu
Dan pembelajaran itu akan terus berlanjut saat kita bersama lalu terpisah ketika Izrail menjemputku

Adindaku,
Aku bukanlah lelaki yang sempurna seperti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Pun tak setampan Yusuf Alaihi Salam
Juga tak sekaya dan seberkuasa Sulaiman Alaihi Salam
Serta tak secerdas Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu
Lalu, masih maukah kau menjadi makmumku kelak?

Aku ingin menjadi lelaki shalih bersamamu bukan menjadi shalih karenamu
Dan maukah kau menjadi wanita shalihah bersamaku bukan menjadi shalihah karenaku?

Adindaku,
Kau memintaku untuk tak menghisap batang rokok yang asap kotornya akan membunuhmu perlahan
Sudah ku lakukan itu
Bukan karena permintaanmu, tapi karena batang rokok itu memang tak bermanfaat bagiku
Dan batang rokok itu yang merenggut ayahku dari sisiku

Adindaku,
Aku tak ingin menjanjikan hal-hal indah yang muluk tentang dunia kepadamu
Aku berharap kau tak terlalu mengangan-angankan hal-hal indah yang akan kita alami bersama
Kita tak kan pernah tahu masa depan itu seperti apa

Aku hanya teringat nasihat dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, sahabat Nabiyullah Shalallahu Alaihi Wassalam

Ada empat hal yang menyebabkan hati manusia menjadi gelap. Yaitu, perut yang terlalu kenyang, berakrab-akrab dengan orang-orang zalim, melupakan dosa-dosa masa silam tanpa ada perasaan menyesal. Dan terakhir, panjang angan-angan.

Bukan.. Bukan karena aku tak ingin membahagiakanmu dan membuatmu menderita di dunia
Tak ada lelaki yang menginginkan ratu bidadarinya menangis
Bahkan jika memang derita itu mesti menghampiri, biarlah derita itu aku yang alami

Aku ingin menjadi lelaki sejati yang takkan membiarkan keluarganya menderita
Bukan berarti pula aku tak ingin mengejar dunia

Aku ingin seperti Abu Bakar Radhiyallahu Anhu yang berdo’a, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”

Aku ingin memberitahumu jika rumah tangga yang ingin ku bangun bukan hanya untuk di dunia ini saja
Dan kuharap aku bisa membangunnya bersamamu di dalam Jannahnya

Adindaku,
Sekali lagi ingin ku katakan kepadamu jika kita tidak bisa meramalkan gelombang di lautan kehidupan itu seperti apa

Perahu rumah tangga yang kita tumpangi bersama akan bertemu dengan riak-riak ombak kecil yang akan membuat kita tersenyum dan menganggapnya sebagai bumbu

Namun bukan tak mungkin ombak besar disertai badai akan memporakporandakan perahu yang kita jaga kelak

Aku berharap ketika ada badai bernama masalah itu datang dan dirasa akan menggoyang perahu kita, kau tetap bersamaku dan kita mencari jalan terbaik agar perahu rumah tangga kita tidak oleng dihempas badai

Dan tak perlulah orang lain tahu badai itu hingga kita berhasil melihat pelangi di penghujung badai

Aku tak ingin kau menceritakan badai itu pada orang lain terutama lelaki lain selain mahram-mu

Aku pun takkan ceritakan badai itu pada wanita yang bukan mahram-ku
Karena bercerita pada yang bukan mahram itu pintu perselingkuhan
Dan aku tak mau itu pintu itu dibuka sekecil apapun
Aku hanya ingin kita bercerita satu sama lain dengan hati yang dingin

Adindaku,
Dalam perahu rumah tangga yang kita bangun nanti, aku adalah arsitek dan nahkoda yang akan menentukan arah perahu rumah tangga kita

Dan dirimu adalah asisten pribadi yang akan membantu mewujudkan visi dan misi rumah tangga yang akan kita rancang bersama

Aku berharap dirimu menjadi isteri yang selalu hadir untukku dan menjadi supporter paling setia yang berdiri di sampingku

Serta menjadi ibu yang selalu ada bagi anak-anak kita
Menjadi guru pertama yang mengajarkan makna tauhid pada mereka
Dan bersamaku memberikan keteladanan yang akan merasuki alam bawah sadar mereka

Adindaku,
Sejujurnya, nanti aku lebih menyukaimu untuk untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja

Tak perlulah kau pergi keluar rumah untuk ikut mencari nafkah
Bukan aku tak suka jika kau bekerja dan membantu menambah pendapatan keluarga

Namun saja, aku tak rela jika dengan kau bekerja maka waktumu untuk menjadi guru kehidupan pertama bagi anak-anak kita menjadi berkurang

Tak perlulah kau merasa takut dengan kekurangan
Percayalah, aku masih mampu untuk menjemput rezeki yang terbaik untuk kehidupan rumah tangga kita kelak

Biarlah aku menunaikan kewajibanku untuk mencari nafkah seutuhnya
Dan kau menunaikan kewajibanmu sebagai seorang istri serta jadi seorang ibu dari anak-anak kita kelak

Adindaku,
Kau memintaku berjanji agar aku tak menikahi wanita lain sampai engkau meninggal nanti

Aku mengerti perasaanmu, maka peganglah janjiku untuk tidak menduakanmu

Aku tahu jika kau bukanlah pembenci syariat-Nya yang bernama poligami
Maka tak perlulah kau mencari dalil dan fatwa untuk mendukungmu agar tak memadumu

Cukuplah permintaan dan rasa cintamu itu yang membuatku tak melakukan hal yang tak kau sukai itu

Aku pun tak tega membiarkan perasaan ratu bidadariku terluka
Aku tak perlu bidadari yang lain selama ada ratu bidadari terbaik yang diserahkan-Nya padaku

Sama seperti halnya Rasulullah yang tak memiliki istri yang lain saat Khadijah masih mendampingi


Adindaku,
Entahlah, apakah yang kutuliskan dalam surat ini termasuk ke dalam panjang angan atau tidak?

Namun, rasanya aku masih ingin tertawa saat aku membaca lagi surat ini dari awal hingga akhir

Tertawa karena aku berharap untuk dapat melakukan hal ini dan itu bersamamu pada saat kita sudah bersama dalam biduk rumah tangga

Padahal aku sendiri masih belum bertemu dengan ayahmu
Belum meminta izinnya untuk meminangmu
Dan saat ini hanya mampu memintamu untuk menantikanku di batas waktu

Kuharap engkau tetap sabar adindaku

Aku takkan membiarkanmu terlalu lama tuk menunggu kedatanganku pada ayahmu

Sebuah bekal terbaik sedang aku persiapkan untuk meminang sang Ratu Bidadari yaitu dirimu

Sampai jumpa adindaku
Sampai jumpa tulang rusukku
Semoga tahun depan kita dapat bertemu di depan ayahmu juga bapak Penghulu

Hormatku untukmu,
@arai_ibnusalman

Kamu, dia, dan keraguanmu

  • 0
Ruang sapa tempatmu bertemu
seakan menggerutu
dan sekat di antaramu
hanya tertawa dalam bisu

Kamu pun meragu
Pada kata yang kau ucap dulu
tentang rasa yang membuat selalu ingin bertemu

Kamu pun terpaku
Pada waktu yang membuat hati berjarak tak menentu
Pada rindu yang menderu dalam semu

Keraguanmu
Berteriak menuntut keadilan itu
meminta kembali janji yang terucap dulu

Sedetik untuk setahun,
5 Agustus 2013

-IFR ft. FA-

Big thanks to FA for the collaboration :)

Mari #BeternakIde, jadi orang yang ngga pernah kehabisan ide untuk ditulis

  • 0
http://c3inspire.com/wp-content/uploads/2012/06/idea_tree.jpeg
Kelanjutan dari cerita sebelumnya tentang #LifeSChool, saya mau berbagi tentang satu skill yaitu Writing.

Salah satu bahasan yang menarik di kelas kemarin adalah tentang menjadi seseorang yang tidak pernah kehabisan ide untuk ditulis.
"Haram hukumnya seorang penulis bilang kehabisan ide untuk menulis" - Fatih Zam
Sering kan, kita itu bingung mau nulis apa, Kadang juga saking banyaknya ide, sampai ngga tahu mau mulai dari mana. Begitu juga saya, awalnya bingung seperti itu. Nah, untuk itu kang Fatih Zam ada beberapa tips unik, diantaranya dengan melakukan tes dan latihan sederhana untuk mengasah kemampuan kita memunculkan ide, yang beliau sebut dengan #BeternakIde.

Caranya seperti ini:
*Tes 1: Buat kalimat yang setiap katanya diawali huruf abjad mulai A-Z
Contoh:
Awan Bergerak Cepat Ditemani Elang Falcon. Gelisah Hati Ingin Jumpa Kekasih Lama. Muslimah Namanya, Orangnya Penghafal Qur'an, Rajin. Sebelum Tutup Usiaku, Vakum. Wahai Xilograf Yang Zuhud
*Tes 2: Buat kalimat menggunakan kata yg terdiri dari 1-8 suku kata
Contoh:
1: Ah
2: Di-a
3: Kem-ba-li
4: Me-nun-juk-kan
5: Ke-po-los-an-nya
6: Ke-tu-lu-san-nya-pun
7: mem-po-rak-po-ran-da-kan
8: ke-ber-pu-ra-pu-ra-an-nya

Mau nyoba? Komen disini ya, yakin punyamu juga ga kalah kreatif:D

#‎KelasWriting #‎LifeSchool bersama kang Fatih Zam
Siapa kang Fatih Zam? yuk kenali lebih dekat di halaman situsnya, disini:http://www.fatihzam.com

Belajar 3 skill di Bimbel Kehidupan, LifeSchool

Alhamdulillah, 3 bulan sudah semenjak pertama kali saya memutuskan untuk mengikuti sebuah program bimbingan belajar di Bandung. Bukan bimbingan belajar biasa, yang diajarkan disini bukanlah mata pelajaran umum seperti di sekolah, tapi ini adalah Bimbingan Belajar skill yang diperlukan dalam kehidupan. Ya, namanya juga LifeSchool, Sekolah Kehidupan.



Di LifeSchool kita akan mempelajari tentang 3 skill penting dalam hidup: Entrepreneur, Public Speaking, dan Writing.

Kita tentu mengenal banyak tokoh dan orang sukses di sekitar kita, semuanya menguasai 3 skill ini. Sebut saja Aa Gym, Mario Teguh, Rendy Saputra, dll yang kita tahu dan kita anggap mereka adalah orang sukses.
Coba perhatikan, semuanya mempunyai 3 skill yaitu entrepreneur, public speaking, dan writing.

Mereka sukses mengembangkan bisnisnya, sering tampil dalam berbagai acara publik dan berbicara disana, juga menulis buku. Aa Gym merintis usahanya, MQ group yang bergerak di banyak bidang, tampil sebagai pembicara di berbagai kesempatan, juga banyak sekali buku-buku yang sudah beliau terbitkan.
Mario Teguh, dan Kang Rendy saputra juga begitu.

Karena tergerak pengen jadi seperti mereka, maka saya pun mempelajari 3 sekill tersebut, dengan mengikuti program LifeSchool.

Awalnya tertarik mengenalnya dari seorang siswanya, sebut saja Kang Indra. Beliau sering banget bikin invitation dan promosi kelas Lifeschool, hampir tiap minggu selalu ada aja, sampai saya hafal setiap Kang Indra update di Facebook, pasti soal LifeSchool.

Lama-lama saya penasaran juga, saya cek lah apa itu LifeSchool, mulai dari profilnya, kegiatannya, sampai lulusannya. Dan luar biasa, lulusanya pun hebat-hebat, bahkan salah satunya sahabat yang juga aktif di Karisma ITB, menerbitkan bukunya tidak lama setelah ikut LifeSchool dan saya juga hadir dalam launchingnya.

Kemudian, suatu saat LifeSchool mengadakan public seminar yang di dalamnya mengadirkan pembicara yang luar biasa, ada kang Asep Wahidin (Pendiri sekaligus tentor LifeSchool) yang pernah menjadi narasumber di acara Chatting dengan YM, ada kang Hakim el-hamidy yang sudah menerbitkan lebih dari 23 buku, dll..



Dalam acara tersebut dikenalkan lebih jauh apa itu Lifeschool, dan saya semakin mantap untuk ikut dalam program ini setelah melihat langsung dampaknya kepada teman-teman yang sudah ikut. Ditambah lagi, ada bonus spesial untuk alumninya, yaitu gratis mengikuti setiap angkatan berikutnya. Artinya bisa terus menambah ilmu, ada garansi seumur hidup untuk manfaat yang didapatkan di LifeSchool.

Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, ketika Kang Asep menawarkan diskon khusus bagi yang mendaftar hari itu juga dalam seminar, saya pun mendaftar meski awalnya ragu karena saat itu belum punya uang untuk membayarnya, tapi saya coba yakinkan diri, soal uang bisa diusahakan, kesempatan janga dilewatkan. Akhirnya daftarlah saya hari itu, dengan DP yang juga sebagian dibantu oleh sahabat saya, kang Fauzi Noerwenda (ingetin ya buat bayar, hehe).

Oh iya, dalam seminar itu juga sekaligus dilangsungkan launching buku "7 Mata Air menuju sukses" karya Rizki Muhammad Ramadhan, yang juga alumni Lifeschool. Terharu ketika melihat kedua orang tuanya menangis, karena bahagia mendapatkan persembahan dari anaknya, saya pun ingin bisa mempersembahkan karya kepada orang tua saya seperti itu.

Prinsip saya dalam mengikuti seminar, training, dll saya tidak boleh pulang dengan tangan kosong, harus ada sesuatu yang saya bawa. Entah itu doorprize, merchandise spesial, tanda tangan bintang tamu, dll pokoknya harus ada yang dibawa selain fasilitas wajib seperti goodie bag, notes, dan pulpen. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Tidak hanya jadi penonton, alhamdulillah saya juga mendapat kesempatan untuk tampil di panggung. Di satu sesi ada doorprize yang syaratnya adalah membagi 5 target/impian terbesar dalam hidup, saya pun memanfaatkan momen ini untuk mengikrarkan mimpi. 3 dari 5 Mimpi saya ceritakan, dari yang terdekat sampai terbesar:

1. Mendapat penghasilan 1.000.000 di bulan Mei (Bulan dilaksanakannya seminar)

2. Menikah di usia muda

5. Membangun perusahaan di Luar Negeri tahun 2040

Serentak seluruh peserta pun mengaminkan, dan bonusnya saya mendapatkan gratis buku 7 Mata Air menuju sukses yang dilaunching hari itu, alhamdulillah.

NB: Poin no.1 pun tercapai di bulan Juli ini, sehari sebelum mudik ke kampung halaman, saya pun mendapatkan gaji + THR dari tempat saya bekerja beberapa hari setelah ikut seminar, dan jumlahnya mencapai 1.000.000, luar biasa :)

Setelah seminar itu, saya pun berfikir bagaimana caranya bisa membayar biaya program LifeSchool, perlu teman-teman ketahui untuk mempelajari 3 skill itu tidak sedikit investasi yang harus dikeluarkan. Gambarannya, kalau dihitung satu per satu mulai dari Entrepreneur, Public Speaking, dan Writing, kurang lebih seperti ini:

-Coaching bisnis: 10 Juta

-NLP, Public speaking: 15 Juta

-Workshop menulis: 1 Juta

-dll

Totalnya bisa puluhan juta kan? Waw..

Tapi, beruntung program Lifeschool ini sudah dirancang sedemikian agar dapat memiliki 3 skill tersebut, dengan investasi yang terjangkau, cukup dengan 1,8 jt sudah dapat semuanya, dan gratis ikut angkatan berikutnya seterusnya. Asik apa asik? :D

Nah, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, ada diskon untuk yang mendaftar hari itu juga saat seminar, berapa jumlahnya? ternyata cukup 1,3 jt! dan dengan DP 100.000, sisanya 1,2 yang harus dibayar.

Setelah itu, saya pun cari cara gimana biar bisa bayarnya, mulai dari jual barang-barang yg ga kepake, sampai nabung. Tapi, hingga menjelang dateline pembayaran (9 Juni 2013) belum mencapai jumlah yg ditentukan. Akhirnya saya pun mencoba menghubungi orang tua, dan orang tua menyarankan untuk menghubungi salah seorang paman, alhamdulillah dapat pinjaman dan bisa bayar pada waktunya.

Selama mengikuti kelas LifeSchool, dari awal banyak hal-hal menarik yang saya dapat, dan semuanya juga didukung dengan suasana kelas yang nyaman, dengan teman-teman yang bersemangat. Beberapa kali saya berangkat dalam kondisi yang kurang fit, karena baru pulang dari tempat kerja, begitu di kelas langsung kembali segar dan bersemangat.

Salah satu bagian yang paling menggugah buat saya itu di bagian Writing, bersama kang Fatih Zam. Orangnya unik, kocak, dan hampir setiap sesi rasanya seperti Stand Up Comedy dan bukan kursus.

Saya yang awalnya masih kurang dalam hal menulis, kadang suka bingung mau nulis apa, di kelas ini akhirnya mulai belajar menggali ide dan menuliskannya. Sampai di sesi terakhir, membahas tentang Buku dan Penerbitan, saya pun punya gambaran tentang buku yang ingin saya tulis, dan berani mempresentasikannya di depan.

Bahkan, di sesi itu kami mempelajari langsung bagaimana proses dari awal membuat naskah hingga buku itu terbit, tidak cuma itu, juga ada praktek langsung bagaimana kita mempresentasikan naskah kita ke penerbit. Dahsyat pokoknya..

**
Itu tadi sedikit cerita tentang pengalaman di LifeSchool angkatan ke-9, Insya Allah saya akan ikut kembali di angkatan berikutnya, dan mungkin nanti kita bisa bertemu di kelas yang sama :)

Ingin tahu lebih lanjut soal LifeSchool? Gabung fan pagesnya disini: https://www.facebook.com/pages/Life-School/231768430269777


Sampai jumpa di kelas LifeSchool :)
-Iqbal Arubi-



Suasana belajar di kelas LifeSchool. Rumusnya: 10-20-70 -10% materi di kelas -20% diskusi dan belajar mandiri -70% praktek langsung

Dalam Sekotak Debu

  • 0
Sosok kecil itu menangis tersedu, terisak-isak memanggil namamu.
Bukankah ia yang dulu menyemangatimu, bukankah ia juga bagian dirimu?
Sudah terlalu lama kau meninggalkannya disana, dan memilih setumpuk debu yang sesungguhnya palsu.
Kini ia berlari menghampirimu, memanggil-manggil namamu. Memintamu kembali menemaninya yang lama kehilangan. Kehilangan dirimu..
Dalam sekotak debu, engkau biarkan kata-katamu meragu, membisu mengendapkan rindu

**

"Kamu kesepian, bukan?"
"Ya"
"Bukankah kamu punya banyak teman, kamu pun banyak dikenal orang?"
"Ya, tapi bukan itu yang membuatku merasa sendirian. Aku hanya tidak bisa mengatakannya kepadamu untuk saat ini, mungkin nanti suatu saat kamu akan mengerti, lebih dari hari ini."

Tatapanmu masih seperti biasa, suaramu yang menyimpan ketidaknyamanan dengan diri sendiri, terdengan jelas dari tutur katamu. Apakah aku penyebab ketidaknyamanan itu?

Kadangkala, kita merasa sendirian di tengah keramaian, dan di lain kesempatan, kita merasakan banyak teman meskipun kita hanya sendirian.

Seringkali kesendirian itu yang mengajarkan arti kebersamaan, ketika kita menyadari bahwa kita tidak sendiri. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan di luar sana, bahkan mungkin masih banyak manusia di luar sana yang jauh lebih pantas untuk dikatakan sendirian.

Mungkin ketersendirian itu hanyalah sebuah isyarat, ada sebuah kata yang belum terucapkan, ada sebuah rasa yang belum tersampaikan, atau mungkin setumpuk urusan yang belum terselesaikan. Entahlah


Kampung Halaman,
4 Agustus 2013

Popular posts