Hilang
Nyala rembulan tak lagi benderang
terhimpit oleh kelopak yang mulai meradang
hatimu pun hancur bak dihamtam batu karang
Punggung Awan,
10 Oktober 2013
Cukuplah Dia
Allah, cukuplah Dia..
Cukuplah Dia yang Maha tahu, tak perlu aku menerka-nerka (lagi), sesuatu yang tak kuketahui
Cukuplah Dia, yang menyampaikan pesan itu padanya, pada mereka
Cukuplah Dia, yang menuliskan setiap pengharapan dan doa, bahkan sebelum aku mengucapkannya
Cukuplah Dia, yang menggerakkan hati siapa saja yang Dia kehendaki, tanpa perlu aku memaksa dan beradu suara
Cukuplah Dia, yang menjadi saksi atas apapun yang aku jadikan itu mimpi, berharap itulah salah satu dari yang Dia ridhoi
Cukuplah Dia, yang menyediakan segenap rizki, tanpa perlu sok bersusah payah, mengira diri ini sanggup menyediakan segala sesuatunya sendiri
Cukuplah Dia, yang Maha Memudahkan, meski seluruh manusia menghadang dan tak menyisakan jalan.
Cukuplah Dia, yang memberi perintah suci itu, yang akan menuntunku
Cukuplah Dia, Allah..
#NtMS #SelfTalk
Cukuplah Dia yang Maha tahu, tak perlu aku menerka-nerka (lagi), sesuatu yang tak kuketahui
Cukuplah Dia, yang menyampaikan pesan itu padanya, pada mereka
Cukuplah Dia, yang menuliskan setiap pengharapan dan doa, bahkan sebelum aku mengucapkannya
Cukuplah Dia, yang menggerakkan hati siapa saja yang Dia kehendaki, tanpa perlu aku memaksa dan beradu suara
Cukuplah Dia, yang menjadi saksi atas apapun yang aku jadikan itu mimpi, berharap itulah salah satu dari yang Dia ridhoi
Cukuplah Dia, yang menyediakan segenap rizki, tanpa perlu sok bersusah payah, mengira diri ini sanggup menyediakan segala sesuatunya sendiri
Cukuplah Dia, yang Maha Memudahkan, meski seluruh manusia menghadang dan tak menyisakan jalan.
Cukuplah Dia, yang memberi perintah suci itu, yang akan menuntunku
Cukuplah Dia, Allah..
#NtMS #SelfTalk
Maafkan Aku Bintang
Aku berdiri
pandangi kerlip bintang
bintang tersenyum
seolah tahu gundahku
Bintang berkelip
tampak aura bijaknya
yakinkan aku tuk bisa curhat padanya
Bintang menanti
lisanku terurai
berkeluh kesah
luapkan beban padanya
Maaf bintang,
walau terasa berat hidupku
takkan ku bagi itu padamu
Sorry bintang,
meski meleleh airmata,
aku takkan curhat padamu
Karena aku punya partner yang lebih baik
Dia setia mendengarku,
memberi Ilham di setiap ruang hatiku
dan itu bukan kamu...
Karena Dia menuntunku hadapi tantangan
tak sekedar mendengar semata
dan itu bukan kamu
Tapi Penciptamu,
Penciptaku...
Allahu rabbi...
#Envy - Ku Takkan Curhat Pada Bintang
“Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)
Biarkan ia terbang tinggi
Biarkanlah ia terbang, nak.
Biarkan ia memilih di mana saja ia akan hinggap,
sama seperti engkau ingin bebas memilih
untuk melewatkan, atau merawat
sekuntum bunga yang sesekali kau temui
Percayalah, akan lebih baik
jika ia terus terbang tinggi
ke atas sana, bersama dengan Elang
membangun sarang yang kokoh dan berwibawa
di puncak pohon tertinggi
yang senantiasa terlindungi
dibanding rumah kecil yang sedang kau bangun ini
**
Hai Azul, kini kulihat kau mulai bernafas lega
dan terbang semakin tinggi
Bersyukurlah, karena mungkin Tuhan telah mengijinkanmu,
mengabulkan pengharapanmu, akan angin yang membawa dirimu
untuk hinggap hanya di sarang yang akan membuatmu lebih baik
bukan rumah kecil yang terkadang rapuh dan menyesakkan jiwa
Bukankah itu yang kau minta pada Tuhan?
#SelfTalk
Dan...Apakah Kita? (reblog)
Dan apakah kita adalah dua hati yang saling menanti?
menghitung hari bersama-sama sambil melempar harap ke langit-langit mimpi.
Dan apakah kita adalah dua hati yang saling berdiam diri?
ragu untuk melangkah karena takut mengusik hati lainnya.
Dan apakah kita adalah dua hati yang buta arah?
tak tahu jalan pulang dan kemana harus menetapkan tujuan.
Dan apakah kita yang hanya mampu saling menatap dari jauh namun gagu menyapa?
Dan apakah kita yang hanya menunggu tanpa ada yang mau berlari terlebih dahulu?
Maka...Kita apa?
Mungkin... kita hanya serpihan-serpihan rindu yang terpaku.
Diam.
Bisu.
Kalau memang benar ada dinding di antara kita,
bisakah kau hancurkan untukku?
Karena setelah dinding itu runtuh,
maka aku berjanji akan menyapamu terlebih dahulu...
dan bertanya...
Apakah aku tujuan pulang mu?Reblog from: http://annisarahmah-dongenglangit.blogspot.com/2013/09/dan-apakah-kita.html
Subscribe to:
Posts (Atom)
Categories
inspirasiana
(41)
puisi
(33)
hikmah
(29)
sajak
(28)
perjalanan
(26)
renungan
(11)
langit bumi
(9)
mimpi
(8)
pemuda
(8)
introspeksi
(6)
poetry
(5)
reblog
(5)
#GamusStory
(4)
hujan rindu
(4)
kultwit
(3)
kutipan
(3)
nikah
(3)
pelajaran
(3)
InspirasiMM
(2)
MyDreamSeries
(2)
jejak pena
(2)
punggung awan
(2)
selftalk
(2)
TourBandungGresik
(1)
fiksi
(1)
Popular posts
-
[on Sunday, June 20, 2010 at 4:00pm] Assalamu alaikum.. Adikku tersayang.. Ku tulis ini sebagai permintaan maaf dan salam perpisahan Sebelu...
-
H ari ini hari yang bersejarah A wal dari perjuangan yang tak kenal lelah R emaja Indonesia telah bersumpah I ndonesia ku tidak untuk ter...
-
Dalam kesakitan teruji kesabaran. Dalam perjuangan teruji keikhlasan. Dalam ukhuwah teruji ketulusan. Dalam tawakal teruji keyakinan Hi...
-
Lelah Aku pun marah Pada suara-suara yang memerahkan telinga Pada bisikan yang mengusik jiwa Aku marah pada diriku yang tidak bisa...
-
Tak perlu banyak bicara, hanya berbagi dan biarkan imajimu mengartikannya sendiri, seperti diamnya langit dan bumi penuh makna yang menarik ...